Bentengi Bayi dari Alergi Makanan dan Demi melancarkan produksi Air Susu Ibu

BERITA BAGUS_Demi melancarkan dan meningkatkan produksi Air Susu Ibu (ASI), ibu menyusui tak hanya disarankan minum air putih dan istirahat cukup, melainkan juga melakukan pijat mandiri.

“Namanya pijat oksitosin. Pijatan ini merangsang hormon oksitosin atau love hormone (hormon cinta) untuk memproduksi ASI. ASI yang keluar pun banyak,” ujar Konsultan dan Dokter Spesialis Anak, Ariani Dewi Widodo dalam acara “Media Lunch Anmum #MumToMum dalam Rangka Pekan ASI 2018”, di Jakarta, Kamis (2/8/2018).

Area punggung tulang belakang menjadi sasaran pijatan. Selain untuk memperlancar ASI, pijatan juga membuat ibu menyusui hilang stres. Ini memberikan ibu kenyamanan untuk bersiap kembali memberikan ASI buat si kecil.

Ariani mempraktikkan teknik pijat ini. Seorang peserta diminta duduk di kursi dengan posisi tubuh menghadap sandaran. Lengan memeluk sandaran kursi. Selanjutnya, si pemijat mulai menekan punggung tulang belakangnya.

“Pertama, cari bagian yang menonjol di punggung, dekat tengkuk. Dari titik yang menonjol, tarik (pijat) dengan jari ke bawah. Lalu tarik kedua jari ke bagian samping kiri-kanan tulang belakang,” Ariani menjelaskan.

Untuk melakukan pijat oksitosin bisa dibantu oleh siapa saja, tapi Ariani menyarankan, pijat dilakukan pasangan.

“Sebenarnya justru direkomendasikan dilakukan dengan suami. Karena sentuhan pasangan kan beda. Ada sentuhan cinta dari suami,” ungkap Ariani, yang berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta.

Hasil dari pijatan membuat payudara yang sebelumnya tegang mampu melancarkan ASI.

Komposisi unik dalam air susu ibu (ASI) bisa mencegah alergi makanan pada bayi di masa depan. sebuah manfaat yang tidak ditemukan di susu formula manapun.
Hal ini diungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Children’s Hospital Research Institute of Manutiba, Kanada yang dipimpin oleh Meghan Azad.
“Kami menemukan bahwa ibu yang memiliki kandungan gula tertentu dalam ASI memiliki bayi yang cenderung tidak memiliki sensitivitas makanan,” kata Azad dikutip dari Global News Canada pada Sabtu (21/7/2018).
“Ini benar-benar menarik, karena kita tahu bahwa jumlah alergi telah meningkat lebih banyak dari tahun lalu,” tambahnya.
Walaupun begitu, dalam penelitian juga memperlihatkan bahwa tidak semua bayi yang diberi ASI memiliki risiko alergi lebih rendah.
“Jadi kami selalu bertanya-tanya mengapa ini tidak konsisten dan salah satu alasannya mungkin karena beberapa ibu memiliki komposisi yang berbeda dalam ASI mereka,” ujar Azad.
Azad menambahkan, penelitian ini mengukur gula dalam ASI pada lebih dari 400 ibu dan melihat bayi mereka untuk mencari tahu mana yang mengembangkan kepekaan terhadap makanan.
Dia mengatakan ada beberapa hal menarik yang muncul dari penelitian ini. Seperti variabel yang bergantung pada tempat tinggal seorang ibu.
“Penelitian ini bersifat nasional, jadi kami memiliki ibu yang berpartisipasi dari Vancouver, Edmonton, Winnipeg, dan Toronto. Kami melihat beberapa perbedaan dengan kota tempat Anda tinggal. Kami juga melihat bagaimana oligosakarida mengubah mikroba usus bayi yang kami tahu sangat penting dalam melatih sistem kekebalan,” paparnya.
Studi ini sendiri diterbitkan dalam jurnal Allergy edisi Juni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *