Thoriq Rizky Maulidan Masuk ke Dimensi Lain, Penguasa Gunung Berwujud Wanita Minta Peliharaan

BERITA BAGUS – Teka-teki hilangnya pendaki bernama Thoriq Rizky Maulidan masih belum terjawab. Tim penyelamat dan warga setempat terus berusaha mencari pelajar SMP yang hilang di Bukit Piramid.

Sejak dinyatakan hilang pada 23 Juni 2019, kasus Thoriq pun berhasil menarik perhatian sejumlah kalangan, termasuk perempuan Indigo Anna Octaria.

Thoriq masih hidup

Mengutip video yang diunggah oleh kanal YouTube Jurnal Misteri, Anna mengatakan bahwa Toriq masih dalam keadaan hidup, namun berada di alam yang berbeda.

“Dia masih hidup, tapi sayangnya enggak di alam kita. Dia ada di dunia atau alam lain,” tutur Anna kepada Arfiansyah Ruslan sang pemandu acara.

Berdasarkan hasil penerawangannya, kejadian tersebut bermula ketika Thoriq hendak melihat sunset bersama salah seorang temannya. Menurut Anna, cuaca di sekitaran Gunung Piramid memang cenderung tidak stabil dan bisa berubah secara tiba-tiba.

Jadi sesaat setelah mereka menikmati sunset dari puncak Gunung Piramid, tiba-tiba kabut menyelimuti jalur pulang mereka. Pada saat inilah, pandangan Thoriq teralihkan oleh sesosok makhluk yang menyerupai temannya.

“Dia turun duluan ngeduluin temannya. Tapi dia melihat sesosok makhluk yang menyerupai manusia, dan akhirnya dia mengikuti makhluk itu. Kebetulan, selama proses pendakian ada perilaku Thoriq yang dianggap telah menyinggung penghuni gunung,” terang Anna.

Jadi ingon-ingonan (peliharaan)

Anna mengatakan, sosok makhluk halus tersebut merupakan jin penguasa Gunung yang digambarkan berparas cantik, namun memiliki niatan jahat. Thoriq sendiri sengaja dibawa ke alam lain untuk dijadikan ‘ingon-ingonan’ alias peliharaan atau menjadi mainan jin tersebut, karena usianya yang relatif masih muda.

Terkait kondisi Thoriq saat ini, Anna menuturkan pria berusia 16 tahun itu masih baik-baik saja. Kondisinya sehat, namun harus segara ditemukan sebelum terlambat.

“Sebelumnya, Anna sempat melakukan pembicaraan sama ibu Ratu Nyi Roro Kidul. Beliau bilang, Thoriq bisa kembali sebelum atau sesudah 10 hari. Kalau sudah lebih dari 14 hari enggak bisa ditolong lagi,” ungkap Anna.

Hanya doa ibu yang bisa selamatkan Thoriq

Untuk menolong Toriq, Anna menganjurkan agar sang ibunda tercinta melakukan ritual dan berkonsentrasi lebih kuat lagi mendoakan anaknya. Karena hanya dari doa ibu lah, Thoriq dapat diselamatkan.

“Kenapa harus ibunya? Karena Thoriq paling dekat dengan ibunya. Selain itu, ia berada di tempat yang penguasanya juga wanita. Dan ingat, dia itu bukan jin Muslim. Jadi harus benar-benar meminta pertolongan Allah SWT,” kata Anna.

Anna juga sempat membeberkan bahwa letak geografis Gunung tersebut yang diapit oleh dua gunung. Masing-masing gunung dihuni oleh seorang penguasa.

Kebetulan, gunung yang didaki Thoriq dan teman-temannya menjadi tempat sebuah kerajaan gaib yang sangat menyeramkan.

“Bentuk kerajaannya tidak indah, kayak di gua-gua gitu. Lalu ada pohon besar dan tebal. Di situ lah lokasi untuk menuju alam mereka,” jelasnya.

Baca Juga : Penyebab Batuk yang Tak Boleh Disepelekan, Ketahui Cara Mencegahnya

Lantas, apakah Thoriq akan ditemukan dalam kondisi hidup atau sudah tidak bernyawa?

Kembali menyinggung hasil komunikasi Anna dengan Nyi Roro Kidul, bila sudah lebih dari 14 hari Toriq tidak ditemukan, kemungkinan untuk membawa Toriq kembali ke dunia nyata akan sangat kecil.

“Setiap daerah atau gunung itu masing-masing punya ketentuan. Ada gunung yang tidak mau menerima jasad manusia, ada juga yang mau menerimanya. Kebetulan Thoriq mendaki digunung yang tidak mau mengembalikan jasad manusia,” kata Anna.

“Menurut penerawangan saya, kemungkinan Thoriq ditemukan itu 70%, Insya Allah dia pulang dalam kondisi hidup. Apalagi banyak yang mendoakannya. Tapi juga harus didukung oleh doa ibunya. Karena doa ibu itu bisa menembus 7 langit,” timpalnya.

Terakhir, Anna berpesan kepada para pendaki gunung agar bisa lebih bertatakrama saat mendaki. Hal-hal negatif dan perilaku tidak baik jangan dilakukan.

Banyak makhluk yang melihat kita, tapi kita tidak bisa melihat mereka. Apalagi di gunung yang notabennya merupakan tempat mereka bersemayam.

“Naik gunung itu usahakan seperti sedang bersilaturahmi, jadi harusnya menjaga tutur kata dan tatakrama,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *